
SAYEMBARA LELAKI
Perlukah aku memiliki lelaki?
Jika setiap yang kulewati menjelma api, duri dan racun?
Jika kelak seluruh kulitku melepuh, rambutku habis, dan tulangku tak lagi kuat menopang raga…?
Perlukah aku memiliki lelaki?
Lelaki seperti yang kutemukan di naskah-naskah tua.
Satria berkuda poni yang mencuri seorang puteri dengan puisi bunga ceri.
Ia yang mencabik-cabik pohon jati tua di tengah hutan,
Dan membangun istana indah untuk sang kasih?
Perlukah aku memiliki lelaki?
Kuingat dadanya yang bidang, tubuhnya yang gagah, tangan yang kekar
Wajah yang bertabur cinta,
Dan tiap malam berlusin-lusin bunga rontok dari janggutnya,
Bakar bentengku yang rapuh
Tapi perlukah aku memiliki lelaki?
Apa aku akan berhasrat menyantap jamuan manis nya
Melahap rangkaian bunga wangi yang sengaja ia tata di meja makan
Seperti perempuan muda lain yang berkeliaran untuk mereka,
Yang sengaja pasang umpan dan siaga di pemancingan pria?
Bagini saja,
Kalau kau temukan lelaki yang pandai memintal pasir, bawalah ia padaku
Aku akan mengajaknya bermain,
Sambil belajar merangkai hari, masa lalu dan mimpiku yang berserakan.
Bila aku perlu hiburan, dia akan mendongeng untukku.
Bila tulang-tulangya kokoh, aku akan memanjat tubuhnya.
Bila dia punya mata yang selalu setia berjaga, kala gelap aku akan lari padanya.
Kalau kutemukan lelaki yang pandai menyisir akar-akar otakku,
Aku akan membawa makhluk itu pulang.
Biar ia menjaga sisa usiaku.





